index

Rokok vs Dana Darurat: Siapa yang Menang di Akhir Bulan?

· 6min

Pernah nggak sih kamu merasa hidup ini curang?

Kamu bangun jam lima pagi, mandi air dingin, lalu berdesak-desakan di gerbong KRL rute Bogor-Jakarta atau macet-macetan naik motor di jalanan Bekasi yang panasnya kayak simulasi neraka. Kamu kerja bagai kuda, dimaki atasan, dikejar deadline, tapi begitu tanggal 25 datang, notifikasi SMS Banking cuma mampir sebentar.

“Gaji masuk,” bunyi ting di hape. Dua jam kemudian, “Bayar kontrakan, bayar cicilan motor, bayar utang pulsa.” Sisa saldo: cukup buat bertahan hidup dengan mi instan sampai akhir bulan.

Di momen itulah, biasanya tanganmu secara otomatis merogoh saku. Mengeluarkan bungkus rokok, menyulutnya, lalu menghembuskan asap panjang ke udara. “Hah… pusing pala gue,” gumammu.

Saya tahu persis rasanya. Saya tahu nikmatnya tarikan pertama itu. Rasanya seolah-olah beban dunia yang seberat gajah di pundak, mendadak ringan sesaat. Rokok itu teman setia. Dia ada saat kamu senang, dia ada saat kamu stres, dia ada saat kamu sendirian di kost-kostan yang sempit.

Tapi, izinkan saya, seorang mantan “ahli hisab” yang dulu menghabiskan dua bungkus sehari, menamparmu sedikit dengan kenyataan pahit.

Kamu tidak miskin karena takdir. Kamu tidak miskin cuma karena pemerintah nggak becus (meski itu ada andilnya). Kamu miskin karena kamu membakar satu-satunya tiketmu untuk keluar dari kemiskinan, batang demi batang, setiap hari.

Pengakuan Dosa: Saya Juga Pernah Membakar Masa Depan

Jangan tutup artikel ini dulu. Saya bukan motivator berjas licin yang nggak pernah ngerasain susahnya cari duit.

Sepuluh tahun lalu, saya ada di posisimu. Gaji pas-pasan, kerjaan serabutan. Asbak di meja saya nggak pernah kosong. Jari telunjuk dan tengah saya kuning permanen kena noda nikotin. Gigi saya? Jangan tanya.

Dulu, logika saya sederhana: “Hidup udah susah, Bro. Masak rokok doang dilarang? Ini hiburan rakyat kecil. Self-reward biar tetep waras.”

Terdengar familiar? Pasti. Itu mantra yang kita ucapkan bareng-bareng supaya kita nggak merasa bersalah.

Tapi suatu hari, motor saya turun mesin. Butuh biaya 1,5 juta. Saya cek rekening: kosong. Saya cek dompet: ada uang merah dua lembar. Saya panik. Saya telepon teman, pinjam sana-sini, tapi semua nihil. Di tengah kepanikan itu, saya melihat tumpukan bungkus rokok kosong di kamar.

Mendadak, saya merasa bodoh. Bukan bodoh akademis, tapi bodoh secara finansial. Saya punya uang untuk “ngebul” setiap hari, tapi saya jadi pengemis begitu ada musibah kecil.

Itu titik baliknya. Saya mulai menghitung. Dan matematika yang saya temukan, sungguh bikin mual.

Matematika Kemiskinan yang Tidak Diajarkan di Sekolah

Mari kita bedah dompetmu sekarang. Anggaplah kamu perokok moderat dengan gaji UMR Jakarta atau sekitarnya (Rp 5 jutaan). Kamu merokok satu bungkus sehari—standar minimal buat laki-laki pekerja keras, kan?

Harga rokok rata-rata sekarang Rp 30.000 (dan akan terus naik, percaya deh).

Otak kita sering menipu. Kalau dibilang Rp 30.000, rasanya kecil. “Ah, cuma setara nasi padang,” pikirmu. Receh. Tapi kemiskinan itu datang dari akumulasi recehan yang kamu remehkan.

Coba kita kalkulasi pelan-pelan:

  • Harian: Rp 30.000.
  • Bulanan: Rp 30.000 x 30 hari = Rp 900.000.
  • Tahunan: Rp 900.000 x 12 bulan = Rp 10.800.000.
  • Satu Dekade (10 Tahun): Rp 108.000.000.

Baca angka terakhir itu. Seratus delapan juta rupiah.

Sekarang, lihat gajimu. Rp 900.000 per bulan itu nyaris 20% dari gaji UMR. Bayangkan skenario ini: Bos kamu memanggilmu ke ruangan, lalu bilang, “Mulai besok, gajimu saya potong 20% ya. Uangnya mau saya bakar di halaman parkir.”

Kamu pasti ngamuk. Kamu pasti demo. Kamu pasti lapor ke Disnaker. Tapi ironisnya, kamu melakukan pemotongan gaji itu sendiri! Kamu sukarela menyerahkan 20% keringatmu ke minimarket, ditukar dengan batangan tembakau, lalu dibakar jadi abu.

Logika macam apa itu?

”Tapi Rokok Itu Obat Stres, Bang!”

Ini argumen pamungkas. “Kalau nggak ngerokok, gue nggak bisa mikir. Gue stres.”

Dengar, saya tahu rasanya craving alias sakau. Kepala berat, emosi meledak-ledak, mulut asem. Tapi mari jujur-jujuran: Rokok itu tidak menghilangkan stres hidupmu; rokok cuma menghilangkan stres akibat withdrawal nikotin yang dia ciptakan sendiri.

Lebih parah lagi, rokok adalah sumber stres finansial terbesarmu.

Coba pikirkan. Kamu stres karena nggak punya uang bayar sekolah anak. Lalu kamu bakar uang 30 ribu buat rokok. Besoknya, uangmu makin berkurang, jadi kamu makin stres. Karena makin stres, kamu ngerokok lagi.

Itu lingkaran setan yang sempurna.

Kamu bilang rokok itu Self Reward? Bukan. Itu Self Sabotage. Sabotase diri sendiri. Orang kaya merokok cerutu karena disposable income mereka tak terbatas. Kalau mereka bakar sejuta sehari, kekayaan mereka nggak goyah. Tapi kamu? Kamu membakar jatah masa depanmu. Kamu membakar peluangmu untuk naik kelas.

Apa yang Sebenarnya Kamu Bakar? (Bukan Cuma Tembakau)

Ketika saya memutuskan berhenti (dan itu susah setengah mati, sumpah), saya membuat rekening khusus. Setiap pagi, uang 30 ribu yang biasanya buat beli rokok, saya transfer ke sana. Tanpa absen.

Setahun kemudian, saya melihat angka 10 juta lebih di sana. Tahu apa yang saya rasakan? Kekuasaan.

Uang 10,8 juta per tahun bagi pekerja UMR itu bukan sekadar uang. Itu adalah Opsi Hidup.

1. Modal Lepas dari Jeratan Pinjol

Banyak dari kita terjerat pinjol bukan buat gaya hidup mewah, tapi buat nambal kebutuhan darurat. Ban pecah, sakit tipes, genteng bocor. Dengan tabungan 10 juta, kamu punya Dana Darurat. Kamu nggak perlu gemetar mengemis ke aplikasi rentenir online yang bunganya mencekik leher.

2. Beli “Alat Pancing” Baru

Kamu sering ngeluh, “Gaji UMR mana bisa kaya?” Benar, kalau cuma mengandalkan gaji, susah. Kamu butuh skill baru. Uang rokok setahun itu bisa buat beli laptop gaming bekas yang kencang. Buat apa? Belajar desain grafis, belajar coding, belajar digital marketing, atau sekadar jadi admin olshop di malam hari. Laptop itu alat produksi, rokok itu alat konsumsi. Bedanya langit dan bumi.

3. DP Rumah Subsidi atau Tanah Pinggiran

Dalam 3 tahun, uang rokokmu terkumpul Rp 32.400.000. Di pinggiran Bogor atau Tangerang, itu sudah cukup buat DP rumah subsidi all-in sampai serah terima kunci. Bayangkan: Temanmu masih ngontrak dan batuk-batuk, kamu sudah punya sertifikat rumah atas namamu sendiri. Cuma dari berhenti membakar uang.

4. Investasi Emas/Saham

Kalau kamu belikan emas Antam, setahun dapat 7-8 gram (kurs saat ini). Emas itu liquid. Butuh uang, tinggal gadai atau jual. Rokok? Abunya mau kamu gadai ke mana?

Berhenti Menyalahkan Pemerintah, Mulai dari Asbakmu

Saya tidak menulis ini untuk menceramahimu soal kesehatan. Silakan kalau mau paru-parumu hitam, itu tubuhmu. Tapi saya gemas melihat kita, kaum pekerja, terus-terusan mengeluh soal ekonomi tapi membiarkan dompet kita bocor halus setiap hari.

Pemerintah memang punya andil menyejahterakan rakyat. Tapi menunggu pemerintah mengubah nasibmu itu kelamaan, Bos. Keburu tua.

Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan dompetmu adalah kamu sendiri.

Berhenti merokok itu memang menyakitkan. Seminggu pertama rasanya kayak orang gila. Saya pernah marah-marah ke istri cuma gara-gara kopi kurang manis, efek sakau nikotin. Tapi rasa sakit itu cuma sementara.

Rasa sakit miskin? Rasa malu dikejar debt collector? Rasa bersalah nggak bisa belikan mainan anak? Itu sakitnya lama.

Jadi, lain kali kamu berdiri di depan kasir minimarket, memegang uang 30 ribu itu, tanyakan pada dirimu sendiri: “Gue mau beli penyakit dan kemiskinan, atau gue mau beli kebebasan?”

Matematika tidak pernah bohong. Kalkulator tidak punya perasaan. Asbak di depanmu itu adalah bukti nyata berapa banyak impian yang sudah kamu bakar jadi debu.

Sekarang pilihannya ada di tangan (dan mulut) kamu. Mau tetap miskin tapi ngebul, atau menahan mulut sedikit demi hidup yang lebih bermartabat?

Buang rokoknya. Ambil kendali atas hidupmu. Karena miskin itu mahal, Kawan. Sangat mahal.